Jenis-Jenis Manusia Purba di Indonesia dan Penjelasannya

Jenis-Jenis Manusia Purba di Indonesia dan Penjelasannya

Manusia purba adalah manusia yang hidup pada masa jauh sebelum tulisan ditemukan. Menurut perkiraan para peneliti, manusia purba sudah mendiami bumi sejak 4 juta tahun yang lalu sampai dengan 2 juta tahun yang lalu.

Jika dilihat berdasarkan ciri fosil yang ditemukan, manusia purba memiliki volume otak yang lebih kecil dibandingkan dengan manusia modern di masa sekarang. Para ahli berusaha mendeskripsikan kehidupan para manusia purba berdasarkan penelitian yang dilakukan pada peninggalan fosil dan artefak yang ditinggalkan oleh manusia purba. Dengan meneliti peninggalan manusia purba yang ada, para ahli membuat perkiraan tentang pola kehidupan manusia purba di zaman dulu.

Pada masa itu, kehidupan manusia purba terbilang masih sangat sederhana. Untuk menjalani aktivitas sehari-hari,mereka menggunakan peralatan-peralatan yang terbilang kuno, misalnya saja terbuat dari batu dan tulang. Biasanya manusia purba hidup secara berkelompok di daerah dekat sungai atau pesisir pantai yang memiliki banyak sumber makanan dan juga masih sepenuhnya bergantung pada alam.

Jenis Manusia Purba Yang Ditemukan di Indonesia

Indonesia menempati tempat yang penting dalam hal penemuan fosil dan peninggalan manusia purba. Alasannya adalah karena fosil-fosil manusia purba yang diketemukan di Indonesia berasal dari semua zaman pleistosen sehingga perkembangan evolusi manusia purba bisa dilihat mulai dari lapisan pleistosen yang tertua sampai dengan yang termuda.

Adapun jenis-jenis manusia purba yang ditemukan di Indonesia antara lain sebagai berikut :

Meganthropus

Rekonstruksi Fosil Tengkorak Meganthropus Paleojavanicus
Rekonstruksi Fosil Tengkorak Meganthropus Paleojavanicus via boneclones.com

Meganthropus merupakan jenis manusia purba tertua yang pernah ditemukan di Indonesia meskipun banyak orang meragukan fosil ini sebagai manusia purba dan lebih mirip fosil kera besar pada zaman itu. Jenis fosil Meganthropus paling dikenal adalah Meganthropus Paleojavanicus yang ditemukan poleh Von Koenigswald pada tahun 1936 dan tahun 1941. Adapun fosil yang ditemukan adalah fosil bagian dari rahang bawah dan juga 3 buah gigi : 1 gigi taring dan 2 geraham.

Meganthropus Paleojavanicus memiliki rahang yang kuat dan besar sehingga bisa diambil kesimpulan bahwa makanan mereka adalah tumbuhan dan dikonsumsi tanpa dimasak terlebih dahulu. Manusia purba jenis ini hidup di bumi sekitar 1 sampai dengan 2 juta tahun lalu yang berarti termasuk dalam lapisan pleistosen bawah, membuat fosil ini sebagai manusia purba tertua yang pernah ditemukan di Indonesia.

Hingga saat ini masih belum ditemukan artefak-artefak dan peninggalan lain dari Meganthropus Paleojavanicus, membuat para ahli tidak bisa memperkirakan kebudayaan atau bagaimana mereka hidup.

Pithecanthropus

Fosil manusia purba jenis ini merupakan fosil manusia purba yang paling banyak ditemukan di Indonesia. Fosil Pithecanthropus paling terkenal adalah fosil yang ditemukan oleh peneliti bernama Eugene Dubois pada tahun 1890,1891, dan 1892 di Kedungbrubus, Madiun dan daerah Trinil di Ngawi. Adapun fosil yang ditemukan antara lain tulang paha, tempurung kepala, rahang bawah, serta geraham atas dan bawah.

Fosil tersebut berasal dari Pithecanthropus Erectus yang berarti Manusia Kera Yang Berjalan Tegak. Berdasarkan fosil tempurung kepala yang ditemukan, Pithecanthropus Erectus memiliki volume otak 900cc dan tinggi 165cm. Pithecanthropus Erectus berasal dari lapisan Pleistosen tengah yang berarti lebih muda daripada Meganthropus.

Untuk jenis-jenis Pithecanthropus adalah sebagai berikut :

Pithecanthropus Mojokertensis

Fosil Pithecanthropus Mojokertensis Atau Anak Mojokerto
Fosil Pithecanthropus Mojokertensis Atau Anak Mojokerto via wikipedia

Fosil ini ditemukan oleh Von Koenigswald di Desa Perning, Lembah Bengawan Solo yang terletak di Mojokerto, Jawa Timur. Fosil anak berusia 5 tahun ini ditemukan pada lapisan pleistosen bawah. Pithecanthropus Mojokertensis memiliki badan yang tegap. Selain itu, manusia purba ini juga memiliki muka yang menonjol ke depan, kening yang tebal, dan juga tulang pipi yang kuat.

Pithecanthropus Robustus

Fosil jenis ini ditemukan oleh Weidenreich dan Von Koenigswald di daerah Trinil, Lembah Sungai Bengawan Solo pada tahun 1939. Mengingat fosil ini juga ditemukan di lapisan Pleistosen bawah, Von Koenigswald menganggap bahwa fosil ini masih sejenis dengan Pithecanthropus Mojokertensis.

Pithecanthropus Erectus

Fosil Pithecanthropus Erectus Atau Manusia Kera Yang Berjalan Tegak
Fosil Pithecanthropus Erectus Atau Manusia Kera Yang Berjalan Tegak via blogspot.com

Fosil jenis ini ditemukan di Desa Trinil, Ngawi, Jawa Timur pada tahun 1890 oleh Eugene Dubois. Pithecanthropus Erectus ditemukan pada lapisan Pleistosen tengah dengan perkiraan waktu hidup antara satu juta sampai dengan satu setengah juta tahun lalu. Manusia purba jenis ini sudah berjalan tegak sesuai dengan namanya yaitu Erectus dan memiliki alat pengunyah yang kuat.

Soal volume otak, manusia purba jenis Pithecanthropus Erectus memiliki volume otak sampai dengan 900cc. Sebagai perbandingan, manusia modern memiliki volume otak lebih dari 1000cc dan kera memiliki volume otak 600cc. Jika kita mengacu pada teori evolusi Darwin, Pithecanthropus Erectus adalah mahluk peralihan dari evolusi kera ke manusia. Fosil jenis Pithecanthropus adalah yang paling banyak ditemukan dan paling luas persebarannya.

Fosil Pithecanthropus Dari Luar Indonesia

Fosil Sinathropus Pekinensis Di China
Fosil Sinathropus Pekinensis Di China via wikipedia

Selain di Indonesia, fosil manusia purba jenis Pithecanthropus juga banyak ditemukan di negara-negara lain. Pithecanthropus yang ditemukan di wilayah Choukou-tien, China diberi nama Pithecanthropus Pekinensis atau Sinanthropus Pekinensis yang berarti manusia kera dari Peking. Fosil Pithecanthropus yang ditemukan di negara Kenya, benua Afrika disebut dengan Australopithecus Africanus. Di Eropa Tengah dan Eropa Barat disebut dengan manusia Heidelberg dan Piltdown.

Kesimpulan dari para ahli yang menganut teori evolusi Darwin, Pithecanthropus adalah jenis manusia purba yang kemudian berevolusi menjadi manusia purba jenis Homo.

Homo

Manusia purba jenis Homo merupakan manusia purba yang paling modern jika dibandingkan dengan 2 manusia purba jenis lain seperti Pithecanthropus dan Meganthropus. Adapun 2 manusia purba jenis Homo yang ditemukan di Indonesia antara lain :

Homo Soloensis atau Manusia Dari Solo

Fosil Homo Erectus Soloensis Dari Ngandong
Fosil Homo Erectus Soloensis Dari Ngandong via wikipedia

Fosil Homo Soloensis ditemukan oleh Teer Haar, Openoorth, dan von Koenigswald di daerah Ngandong, Blora dan di daerah Sangiran serta Sambung Macan, Sragen pada tahun 1931 sampai dengan 1933. Homo Soloensis hidup di lapisan Pleistosen atas, yang berarti sekitar 900.000 sampai dengan 300.000 tahun yang lalu.

Dengan volume otak mencapai 1300cc, von Koenigswald mengambil kesimpulan bahwa manusia purba jenis ini memiliki tingkatan yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan manusia purba jenis Pithecanthropus Erectus. Perkiraan lain adalah, Homo Soloensis merupakan hasil evolusi dari Pithecanthrops Mojokertensis.

Menurut para ahli, Homo Soloensis memiliki golongan yang sama dengan Homo Neanderthalensis yang merupakan manusia purba jenis Homo yang lokasi ditemukannya meliputi kawasan Asia, Afrika, dan Eropa dan juga hidup di lapisan Pleistosen atas.

Homo Wajakensis atau Manusia Wajak

Fosil Homo Wajakensis Atau Manusia Dari Wajak
Fosil Homo Wajakensis Atau Manusia Dari Wajak via wikipedia

Sesuai dengan namanya, fosil Homo Wajakensis ditemukan di Desa Wajak, kabupaten Tulungagung, Jawa Timur oleh Van Riestchoten. Fosil ini kemudian dikirim ke rekan sejawatnya, Eugene Dubois yang kemudian membuat Eugene Dubois datang ke Indonesia dan melakukan penggalian disini. Menurut informasi, Homo Wajakensis adalah fosil manusia purba pertama yang dilaporkan berasal dari Indonesia.

Homo Wajakensis memiliki tinggi badan antara 130cm sampai dengan 210cm, dengan berat badan antara 30kg sampai dengan 150kg dan tentu saja, volume otak yang membedakannya dengan fosil manusia purba lain. Yaitu volume otak sebesar 1300cc. Manusia purba jenis ini diperkirakan hidup pada 40.000 sampai dengan 25.000 tahun yang lalu pada lapisan Pleistosen atas.

Dari ciri-ciri Homo Wajakensis, diketahui bahwa manusia purba jenis ini lebih maju jika dibandingkan dengan jenis lain. Makanan mereka juga sudah dimasak meskipun masih terhitung sederhana.

Fosil tengkorak Homo Wajakensis memiliki banyak kemiripan dengan tengkorak dari Suku Aborigin di Australia. Menurut Eugene Dubois sendiri, Homo Wajakensis termasuk dalam ras Australoid, bernenek moyang Homo Soloensis dan menurunkan suku Aborigin di Australia. Fosil Homo Wajakensis juga memiliki banyak kemiripan dengan fosil manusia purba dari negara lain seperti manusia dari Niah di Serawak Malaysia, manusia dari Tabon di pulau Palawan Filipina, dan fosil-fosil Australoid dari Australia Selatan dan Cina Selatan.

Leave a Comment