Situs Benteng Cepuri Kotagede, Peninggalan Mataram Islam yang Wajib Dikunjungi

Situs Benteng Cepuri Kotagede, Peninggalan Mataram Islam yang Wajib Dikunjungi

Salah satu kota favorit di Indonesia yang dikunjungi para wisatawan lokal maupun mancanagera ialah Daerah Istimewa (D.I) Yogyakarta, Jawa Tengah. Selain situs Candi Prambanan dan Candi Borobudur, juga populer wisata lain yaitu Benteng Cepuri Kotagede.

Jika Candi Prambanan dan Candi Borobudur merupakan saksi sejarah peradaban Mataram Hindu yang mengusai pulau Jawa, Benteng Cepuri merupakan saksi bisu berjayanya Kesultanan Mataram Islam yang pernah menguasai hampir seluruh pulau Jawa.

Sejarah Singkat Kotagede Yogyakarta

Kotagede merupakan salah satu kecamatan di D.I Yogyakarta seluas 3,7 km2. Per 2017, jumlah penduduknya mencapai 37.055 jiwa. Nama ‘Kotagede’ sendiri diambil dari nama daerah Kota Lama Kotagede, yang dulunya merupakan Ibukota Kesultanan Mataram.

Kotagede dapat disebut sebagai The Old Capital City, karena menyimpan sejarah lahirnya Kesultanan Mataram Islam. Awalnya, Mataram adalah basis Hindu, sebelum mereka memindahkan pusat pemerintahan ke Jawa Timur.

Singkat cerita, Ki Gede Pemanahan akhirnya mendirikan desa di bekas daerah Mataram Hindu tersebut. Hingga Ki Gede wafat, desa berkembang pesat dan pemangku kekuasaan dilanjutkan oleh putranya, Senopati Ingalaga.

Selang beberapa waktu, daerah yang awalnya hanya desa biasa berkembang menjadi perkotaan. Penduduk berkembang pesat dan kehidupan makmur di bawah pemerintahan Senopati. Nama daerah tersebut menjadi Kotagede, yang artinya ‘Kota Besar’.

Kilas Balik Mataram Islam di Yogyakarta

Secara historis, D.I Yogyakarta berdiri pada 7 Oktober 1756. Artinya, sebelum abad ke-18, wilayah ini masih bernama Mataram. Dua abad sebelumnya, abad ke16 dan abad ke-17, Yogyakarta merupakan daerah kesultanan Mataram Islam.

Tahta dalam Kerajaan

Saat itu Ki Gede yang dilanjutkan Senopati Ingalaga berhasil mengembangkan desa bekas Mataram Hindu . Namun, di Kesultanan Pajang justru terjadi perebutan takhta di antara para putra Sultan Hadiwijaya.

Penting dicatat, Sultan Hadiwijaya adalah Sultan Pajang yang berjasa memberi Ki Gede daerah Alas Mentaok, cikal-bakal Kotagede. Oleh karena itu, konflik internal Kesultanan Pajang mau tidak mau harus dibantu oleh Senopati.

Senopati Ingalaga dimintai tolong oleh Pangeran Benawa, putra mahkota Kesultanan Pajang untuk memerangi saudaranya, Arya Pangiri. Senopati pun berhasil menaklukkan Arya Pangiri dan berdasarkan wasiat, Dia dinobatkan sebagai penerus Pangeran Benawa ketika meninggal.

Lahirnya Mataram Islam

Mataram Islam pun lahir dan pusat kekuasaannya ialah daerah asal Senopati, yakni Kotagede. Senopati Ingalaga memiliki kiprah penting saat berdirinya benteng dalam, yang dikenal sebagai Benteng Cepuri di Kotagede dan benteng luar yakni Benteng Baluwarti.

Sebagai raja Mataram Islam pertama, Dia diberi gelar Panembahan Senopati. Kotagede menjadi ibukota, sementara Mataram Islam berhasil memperluas kekuasaannya hingga ke Madiun, Pasuruan, Pati, Kediri dan hampir seluruh Tanah Jawa, kecuali Banten dan Batavia.

Luas Wilayah Mataram Islam Di Masa Pemerintahan Sultan Agung
Luas Wilayah Mataram Islam Di Masa Pemerintahan Sultan Agung via wikipedia

Puncak kejayaan Kesultanan Mataram Islam ialah pada masa kepemimpinan Sultan Agung, raja ketiga, keturunan dari Panembahan Senopati. Tahun 1613, Sultan Agung memindahkan pusat kerajaan Mataram Islam dari Kotagede ke Karta Pleret, Bantul.

Peninggalan Bersejarah

Beberapa peninggalan sejarah dapat ditelusuri di Kotagede, di antanya yaitu Pasar Kotagede. Ke arah selatan dari pasar adalah makam dan reruntuhan benteng dalam alias Benteng Cepuri serta beringin kurung.

Kompleks Makam Pendiri Kerajaan memiliki corak arsitektur Hindu dan memiliki 3 gapura lintasan, sebelum sampai ke gapura keempat atau terakhir yang mengarah ke makam. Masjid Kotagede juga merupakan peninggalan lainnya, sekaligus masjid tertua di Yogyakarta.

Persis di sebelah jalan depan kompleks makam, berdirilah sebuah rumah tradisional. Itu adalah peninggalan lainnya yang masih ada hingga kini. Berjalan ke selatan lagi, ada sebuah Kedhaton. Peninggalan yang tak kalah penting juga yaitu reruntuhan benteng.

Mengenal Benteng Cepuri di Kotagede

Situs Benteng Cepuri
Situs Benteng Cepuri via Google Maps, oleh Rudi Winarso

Reruntuhan benteng tersebut bernama Benteng Cepuri, situs peninggalan Kesultanan Mataram Islam yang didirikan demi melindungi Keraton atau Kedhaton Mataram. Pembangunannya tidak hanya di masa Senopati, tapi berlanjut hingga kerajaan dipimpin oleh putranya, Hanyokrowati.

Desain Benteng Cepuri

Denah Benteng Cepuri Kotagede
Denah Benteng Cepuri Kotagede via kebudayaan.kemdikbud.go.id

Benteng Cepuri menjadi simbol artistik tentang pembatasan dunia luar, yakni komunitas rakyat biasa (jaba beteng) dengan komunitas dalam, yakni keluarga kerajaan (jeron beteng). Selain itu, Benteng Cepuri memiliki fungsi sebagai benteng pertahanan kerajaan Mataram Islam.

Benteng tersebut juga dilengkapi dengan parit atau jagang di sisi barat, selatan dan timur. Lebar parit mencapai 20 hingga 30 meter, sementara kedalamannya mencapai 1 hingga 3 meter. Hal itu semakin memperkuat dugaan tadi bahwa juga digunakan sebagai dinding pertahanan.

Dari segi bahan, Benteng Cepuri disusun dengan batu bata berukuran 8 cm x 16 cm x 30 cm, serta batu putih berukuran 7 cm x 16 cm x 30, hingga ukuran 12 cm x 22 cm x 43 cm. Dengan kata lain, benteng ini memiliki tinggi 3,5 meter dan lebar sekitar 2 meter.

Sisi barat Benteng Cepuri tak memiliki bekas reuntuhan dan hanya berupa pemukiman padat penduduk. Sisa-sisa reruntuhan baru ditemukan di bagian selatan benteng, namun terputus-putus. Sisi tenggara berkelok ke utara yang dikenal dengan ‘Bokong Semar’.

Begitupun dengan sisi timur benteng, hanya ditemukan reruntuhan saja. Beberapa bagian sudah direnovasi, namun banyak juga yang tetap berupa tumpukan batu bata secara tidak teratur. Kesemuanya, luas Benteng Cepuri berkisaran 62.275 m2 atau 6,28 hektar.

Sementara itu, di bagian tengah sisi utara benteng terdapat struktur yang dipercaya sebagai bekas jebol oleh Pangeran Rangga, putra Panembahan Senopati. Karena legenda itulah, struktur tersebut kini dikenal sebagai ‘Benteng Jebolan Raden Rangga’.

Kontroversial Jebolnya Benteng

Dinding Benteng Cepuri Yang Jebol
Dinding Benteng Cepuri Yang Jebol via tempo.co

Struktur benteng yang dipercaya dijebol Raden Rangga tersebut membelah dua, menyerupai pintu gerbang gapura. Itu menunjukkan bagaimana anak seorang raja Mataram Islam memiliki aji kesaktian, menjebol dinding setebal lebih dari 1 meter.

Kabarnya, Raden Rangga merupakan hasil perkawinan Panembahan Senopati dengan Ratu Kidul. Suatu ketika sang raja ingin menguji kesaktian putranya, dengan memintanya memencet jempol kaki raja sekeras mungkin. Sayangnya, sang raja tidak merasa sakit.

Ia pun mengira sang putra tidak memiliki kekuatan, tidak sakti, hingga membuat Raden Rangga marah, lalu berlari ke luar keraton. Namun bukan melalui pintu, melainkan menjebol dinding di sisi utara tersebut. Kini, bagian tengah dinding jebol tersebut sudah direstorasi.

Selain legenda tersebut, beredar pula versi lain tentag jebolan Raden Rangga. Konon, suatu hari Panembahan Senopati, sang ayah, meminta ia memijatnya. Raden Rangga pun memijat keras hingga Senopati kesakitan.

Tetapi lantaran kenakalannya, Raden Rangga tetap tidak berhenti memijat, hingga membuat Panembahan Senopati murka. Sang raja pun menendang sang putra hingga tubuhnya menjebol dinding tersebut.

Bagaimanapun kisahnya, Benteng Cepuri tetap merupakan situs penting Kesultanan Mataram Islam, yang menyimpan mitos tentang kesaktian para keluarga keraton di satu sisi, serta kokohnya kerajaan Mataram Islam di sisi lainnya.

Sebagai bukti historis, Benteng Cepuri Kotagede patut menjadi destinasi utama wisata  sejarah di D.I Yogyakarta. Dari sejarah Anda belajar, tentang betapa Indonesia memiliki khazanah peradaban yang menakjubkan dan pertahanan yang kokoh di masa lalu.

Leave a Reply