Candi Prambanan

6 Pengaruh Agama dan Kebudayaan Hindu Budha Terhadap Masyarakat Indonesia

Seperti yang sudah dibahas pada artikel sebelumnya (Baca : Proses Masuknya Agama Hindu Budha ke Indonesia), hubungan dagang antara bangsa-bangsa di Indonesia dengan India adalah penyebab utama mengapa pengaruh agama dan kebudayaan berlatar Hindu Budha bisa masuk ke Indonesia dan mempengaruhi kehidupan masyarakat di berbagai daerah.

Pengaruh budaya berlatar hindu budha tersebut bisa dilihat di berbagai bidang dan aspek masyarakat seperti seni sastra, seni rupa, seni patung, seni bangunan, upacara keraton, ketata negaraan, dan kemasyarakatan.

Berbagai budaya yang ada saat ini, sebagiannya adalah hasil dari akulturasi budaya antara budaya asli Indonesia dengan pengaruh dari India.

Istilah yang tepat untuk menyebut pengaruh budaya hindu budha pada budaya asli Indonesia, menurut F.D.K Bosch disebut dengan fecundation yang artinya penyuburan. Dengan kata lain, penyuburan budaya asli Indonesia oleh unsur-unsur budaya Hindu Budha.

Pengaruh Hindu Budha dalam bidang Agama

Bambu Petuk Atau Pring Petuk
Mempercayai bambu petuk memiliki khasiat ghaib adalah salah satu bentuk masih adanya kepercayaan kuno hingga saat ini via busy.org/@bim.scouting

Sebelum mendapatkan pengaruh dari agam hindu budha dari India, bangsa-bangsa di kepulauan Indonesia sudah memiliki beberapa kepercayaan asli, antara lain :

  • Animisme adalah kepercayaan yang mempercayai bahwa setiap benda di Bumi ini, (seperti kawasan tertentu, gua, pohon atau batu besar), mempunyai jiwa yang mesti dihormati agar roh tersebut tidak mengganggu manusia.
  • Dinamisme  adalah pemujaan terhadap roh nenek moyang yang telah meninggal menetap di tempat-tempat tertentu, seperti pohon-pohon besar.
  • Animatisme adalah sistem kepercayaan yang meyakini bahwa benda-benda atau tumbuhan di sekitar manusia memiliki jiwa dan bisa berpikir.
  • Totemisme adalah kepercayaan yang mempercayai adanya daya atau sifat ilahi yang dikandung sebuah benda atau makhluk hidup selain manusia.

Kepercayaan-kepercayaan tersebut lambat laun tergeser dengan hadirnya agam Hindu dan Budha, diawali dari pemimpin-pemin lokal sampai kemudian merambah keseluruh masyarakat bawah.

Meskipun begitu, kebudayaan dan agama Hindu Budha yang masuk tidak serta merta menghapus kepercayaan asli masyarakat Indonesia secara keseluruhan. Lebih tepatnya, kepercayaan baru yang datang yaitu pengaruh Hindu Budha berbaur dengan kepercayaan yang sudah ada sebelumnya.

Hal ini membuktikan bahwa dengan masuknya pengaruh dari luar, masyarakat tidak serta merta menerimanya saja tapi menyaring dan menyesuikan dengan kepercayaan yang sudah ada pada saat itu.

Salah satu pengaruh agama Hindu dan Budha yang paling kentara, dalam hal kepercayaan misalnya saja mengenai pemimpin. Raja dipercaya sebagai keturunan dewa, atau dewa yang turun ke dunia dalam wujud manusia. Hal ini bisa dilihat pada arca peninggalan dari masa itu, sebagai contoh adalah arca raja Airlangga yang diabadikan dalam arca berwujud dewa Wisnu.

Kepercayaan ini mengakibatkan timbulnya pengkultusan terhadap pribadi raja. raja diagung-agungkan, dan kata-kata serta perintahnya pantang untuk dibantah.

Pengaruh Hindu Budha dalam bidang Bahasa

Prasasti Mulawarman Dalam Bentuk Yupa
Prasasti Mulawarman Dalam Bentuk Yupa yang Menggunakan Bahasa Sansekerta dan Huruf Pallawa

Kebudayaan dan agama Hindu Budha dalam sejarah tidak bisa dilepaskan dari penggunaan bahasa Sansekerta atau sanskrit. Bahasa sansekerta bukanlah bahasa yang digunakan oleh masyarakat pada umumnya, dan hanya bisa digunakan oleh para Brahmana. Yang mana golongan tersebut sangat identik dengan agama dan kebudayaan bernafaskan Hindu Budha.

Karena itulah, dengan masuknya agama dan kebudayaan Hindu Budha ke Indonesia. Maka bahasa Sansekerta pun turut digunakan pada masa itu. Lebih detailnya, penggunaan bahasa Sansekerta banyak ditemukan pada prasasti-prasasti kuno peninggalan zaman itu seperti prasasti Mulawarman, prasasti Tugu, prasasti Kebon Kopi, dan prasasti Ciaruteun.

Pengaruh Hindu Budha dalam bidang Pemerintahan

Raja Airlangga Mengendarai Garuda Sebagai Avatar Dewa Wisnu
Raja Airlangga Mengendarai Garuda Sebagai Avatar Dewa Wisnu

Berubahnya sistem kemasyarakatan tak luput juga dari pengaruh kebudayaan dan agama Hindu Budha. Dalam hal ini, sistem kasta atau caturwarna mulai digunakan. Pengertian sistem kasta sendiri adalah penggolongan masyarakat berdasarkan tingkat atau derajatnya. Masyarakat secara umum mulai digolongkan berdasarkan kasta sebagai berikut :

  • Kasta Brahmana adalah orang yang mengabdikan dirinya dalam urusan bidang spiritual seperti sulinggih, pandita dan rohaniawan.
  • Kasta Ksatria adalah para kepala dan anggota lembaga pemerintahan. Seseorang yang menyandang gelar ini tidak memiliki harta pribadi semua harta milik negara.
  • Kasta Waisya adalah orang yang telah memiliki pekerjaan dan harta benda sendiri petani, nelayan, pedagang, dan lain-lain.
  • Kasta Sudra adalah pelayan bagi ketiga kasta di atasnya. via https://id.wikipedia.org/wiki/Kasta

Meskipun pada saat itu sistem kasta mulai digunakan, dalam pelaksanaannya penggunaan sistem ini tidaklah seketat penggunaan di negeri asalnya, India. Dalam pemerintahan, pengaruh kebudayaan Hindu Budha bisa dilihat dari sistem kerajaan dengan gambaran sebagai berikut :

  • Hubungan antara penguasa dan rakyatnya berdasar pada hubungan antara yang memerintah dan yang diperintah.
  • Pergantian kekuasaan dilakukan secara turun temurun berdasarkan keturunan.
  • Gelar penguasa disebut dengan raja, bahkan maharaja
  • Dalam sistem pemerintahan, identitas asli Indonesia terlihat dari pemerintahan yang tidak semuanya dipegang sang raja secara mutlak.
  • Kerajaan-kerajaan di Indonesia terdiri atas wilayah-wilayah yang lebih kecil dan masing-masing wilayah diperintah oleh rakai yang memiliki otonomi cukup luas. Para pemerintah daerah ini pada umumnya masih memiliki hubungan kerabat dengan raja. Hubungan kerabat yang dimaksud tidak terbatas pada hubungan darah, namun juga hubungan kerabat yang terjalin dari perkawinan.

Pengaruh Hindu Budha dalam bidang Seni Bangunan

Candi Prambanan
Candi Prambanan, peninggalan kerajaan Mataram Kuno di Yogyakarta via unsplash.com/@eugeniaclara

Sebelum datangnya kebudayaan dari India, monumen yang dibangun oleh masyarakat untuk melakukan pemujaan roh nenek moyang adalah punden berundak.

Setelah terkena pengaruh kebudayaan Hindu Budha dari India, masyarakat mulai mengenal teknik pembangunan bangunan pemujaan seperti stupa, candi, dan petirtaan.

Di India, candi khusus dibangun untuk melakukan pemujaan terhadap dewa. Namun di Indonesia, selain digunakan sebagai sarana pemujaan terhadap dewa, candi juga digunakan untuk memuja roh nenek moyang.

Bangunan candi di Indonesia dibangun dengan teknik yang memadukan seni bangunan candi India dengan pundek berundak Indonesia. Bangunan candi sudah jelas mangandung unsur-unsur kebudayaan India. Namun hingga saat ini para ahli belum berhasil menghubungkan gaya bangunan candi Indonesia dengan candi manapun di India.

Dalam membangun candi, para arsitek zaman dahilu menggunakan Silpasastra sebagai dasar konsep pelaksanaannya. Silpasastra adalah sebuah kitab dan pegangan yang berisi tentang berbagai arahan dan panduan membangun candi, arca, dll.

Bangsa Indonesia hanya mengambil unsur dan panduan dari budaya India sebagai dasar dalam pembangunan candi dan arca. Hasilnya adalah candi-candi yang bercorak khas Indonesia seperti Candi Borobudur, Candi Prambanan, Candi Mendut, dll.

Pengaruh Hindu Budha dalam bidang Pendidikan

Kebudayaan dan agama Hindu Budha juga mempengaruhi masyarakat Indonesia dalam bidang penggunaan aksara. Sebelum masuknya budaya bercorak Hindu Budha, masyarakat Indonesia masih berada pada masa akhir prasejarah atau belum mengenal aksara.

Namun setelah masuknya kebudayaan dari India, masyarakat Indonesia mulai mengenal aksara dan memasuki zaman sejarah.

Penggunaan bahasa sansekerta dan huruf pallawa dalam prasasti peninggalan dari zaman itu merupakan bukti adanya pengaruh budaya Hindu Budha dalam bidang pendidikan. Bahasa sansekerta merupakan bahasa yang digunakan pada kalangan bangsawan kerajaan dan brahmana.

Setelah itu muncul dan berkembanglah bahasa-bahasa lain seperti bahasa jawa kuno, bahasa bali kuno, bahasa kawi yang merupakan turunan dari bahasa Sansekerta.

Dari situ bisa ditarik kesimpulan bahwa pada saat itu, sebagian masyarakat Indonesia sudah mengenal baca tulis.

Pada saat itu, sistem pendidikan berasrama juga sudah mulai digunakan untuk mengajarkan dan memperdalam ajaran agama Hindu Budha. Sistem pendidikan ini kemudian diadaptasi dan banyak digunakan oleh kerajaan-kerajaan di Indonesia di masa mendatang.

Pengaruh ajaran Hindu Budha juga ditunjukan dengan berkembangnya ajaran budi pekerti yang berlandaskan Hindu Budha. Pendidikan budi pekerti yang menanamkan nilai kasih sayang, welas asih, kedamaian, dan sikap saling menghargai sesama manusia mulai dikenal dan diamalkan dalam kehidupan bermasyarakat pada saat itu.

Pengaruh Hindu Budha dalam bidang Sastra

Arjuna Wiwaha
Penjelasan Kakawin Arjuna Wiwaha via wayangku.id

Perkembangan Sastra

Sebelum masuknya pengaruh sastra India, sastra di Indonesia masih berupa sastra tutur atau sastra lisan karena pada saat itu masyarakat Indonesia masih belum mengenal aksara. Pada perkembangannya, sastra tulis mulai bermunculan.

Dimulai dari zaman Mataram Kuno sampai dengan zaman Majapahit Awal (Majapahit Bagian I) berupa sastra tembang yang disebut kakawin/kakahwin/kakawian. Memasuki zaman Majapahit Akhir (Majapahit Bagian II), irama kakawin mulai digeser dengan irama Kidung.

Hasil Karya Sastra

Hasil karya sastra Indonesia yang muncul karena pengaruh sastra India, dapat dikelompokkan berdasarkan zamannya sebagai berikut :

Zaman Mataram Kuno
  • Kakawin Ramayana dan bagian-bagian Mahabarata.
Zaman Kediri
  • Kakawin Arjuna Wiwaha karya Mpu Kanwa.
  • Kakawin Kresnayana karya Mpu Triguna.
  • Kakawin Sumanasantaka karya Mpu Monaguna.
  • Kakawin Smaradahana karya Mpu Dharmaja.
  • Kakawin Baratayudha karya Mpu Sedah dan Mpu Panuluh.
  • Kakawin Gatotkacasraya karya Mpu Panuluh.
  • Kakawin Wertasancaya karya Mpu Tanakung.
Zaman Majapahit Awal (Majapahit Bagian I)
  • Negarakertagama karya Mpu Prapanca.
  • Sotasoma karya Mpu Tantular.
Zaman Majapahit Akhir (Majapahit Bagian II)
  • Tantu Panggelaran
  • Calon Arang
  • Bubuksah
  • Sundayana
  • Pararaton
  • Ranggalawe
  • Sorandaka

Pengaruh kebudayaan Hindu Budha dari India sangat tampak dari inspirasi asli cerita-cerita yang berasal dari India. Sebagai contoh adalah kisah Ramayana dan Mahabarata yang merupakan karya asli dari sastrawan India.

Kisah-kisah tersebut pada perkembangannya mengalami perubahan dan menjadi sedikit berbeda dengan aslinya, menyesuaikan dengan nilai-nilai asli Indonesia. Salah satu contohnya adalah dalam kisah yang ada di Indonesia, terdapat tokoh-tokoh baru yang sama sekali tidak muncul di cerita aslinya.

Kelak cerita ini dimodifikasi setelah masuk dan berkembangnya Islam di Indonesia, dengan memunculkan tokoh punakawan seperti Semar, Gareng, Bagong, dan Petruk yang jenaka.

Leave a Reply