Tari Mung Dhe Dari Nganjuk

Tari Mung Dhe : Tari Perang Bernafaskan Perjuangan dari Nganjuk

Kesenian Tari Mung Dhe adalah seni tari yang berasal dari kabupaten Nganjuk di Jawa Timur. Sebelum membahas lebih dalam mengenai tari mung dhe, ada baiknya kita menjelajahi pengertian dari seni tari terlebih dahulu.

Pengertian Seni Tari

Pada zaman dahulu, seni tari identik penggunaannya dengan ritual keagamaan sebagai persembahan kepada Tuhan atau roh leluhur yang tujuannya adalah sebagai ungkapan rasa syukur atau bagian dari upacara adat tertentu.

Untuk pengertian tari menurut para ahli, rajinnlah akan sampaikan pendapat dari dua tokoh yaitu Kamaladevi Chattopandhayaya dan Corrrie Hartog :

  • Menurut Kamaladevi Chattopandhayaya, tari adalah gerakan-gerakan luar yang ritmis dan lama kelamaan nampak mengarah kepada bentuk-bentuk tertentu.
  • Menurut Corrie hartog yang merupakan ahli tari asal Belanda, tari adalah gerak-gerak yang berbentuk dan ritmis dari badan di dalam ruang.

Sejarah Tari Mung Dhe

Penangkapan Pangeran Diponegoro
Penangkapan Pangeran Diponegoro via Wikipedia

Tari mung dhe adalah tarian yang menggambarkan perjuangan rakyat, terinspirasi dari salah satu peperangan melawan Belanda di zaman penjajahan dulu yaitu perang Diponegoro.

Setelah pangeran Diponegoro ditangkap dan diasingkan oleh Belanda, sebagian pengikutnya ditangkap dan dijadikan pasukan tambahan untuk dikirim ke peperangan lain. Sebagian lagi berhasil melarikan diri dan melanjutkan perjuangan meskipun menggunakan cara yang berbeda-beda.

Sebagian pengikut pangeran Diponegoro ada yang menetap di Kabupaten Nganjuk. Mereka adalah Kasan Tarwi, Dulsalam, Kasan War, Kasan Taswut, Mat Khasim, Suto, Samido, Rakhim, Mat Ngali, Mat Ikhsan, Mat Tasrib, Baderi Mustari dan Soedjak.

Mereka semua masih memiliki hubungan keluarga satu sama lain dan dari merekalah pembuatan tari Mung Dhe dimulai. Berawal dari Desa Babatan di kecamatan Patianrowo, kemudian menyebar ke Desa Termas dan Desa Garu.

Tari Mung Dhe memiliki tujuan untuk mengumpulkan sisa-sisa pengikut pangeran Diponegoro yang tersebar di daerah-daerah di pulau Jawa. Cara yang menggunakan media tari digunakan untuk mengelabuhi pihak Belanda yang pada saat itu masih berusaha mencari sisa-sisa pengikut pangeran Diponegoro.

Pada prosesnya, kesenian tari mung dhe berkeliling dari satu tempat ke tempat lain sehingga dikenal masyarakat secara luas dan menjadi populer serta berkembang ke daerah-daerah lain, tidak terbatas pada tempat asalnya di Desa termas.

Pemeran dan Musik Pengiring tari Mung Dhe

Tari Mung Dhe Dari Nganjuk
Tari Mung Dhe Dari Nganjuk via budayajawa.id

Pada awalnya, tari Mung Dhe membutuhkan 14 orang yang nantinya akan meliputi penari dan musik pengiring. Masing-masih adalah 8 orang sebagai pemain musik pengiring, 2 orang botoh, 2 orang pembawa bendera, dan 2 orang prajurit.

Adapun alat musik yang digunakan adalah derodog,jur,bende,penitir,timplung,kendang,kempyang, dan suling.

Di masa sekarang, tari Mung Dhe membutuhkan 12 orang pemain saja. Dengan detail masih sama dengan yang diatas, tapi untuk bagian pengiring musik menjadi 6 orang dengan alat musik sebagai berikut : timplung, bendhe, jur, kempyang, penitir, dan derodog.

Ragam Gerak Tari Mung Dhe

Dalam seni tari, setiap gerakan anggota tubuh memiliki makna dan mengandung ungkapan jiwa. Karena tari juga bermaksud untuk menyampaikan pesan kepada para penontonnya, gerakan-gerakan yang disampaikan haruslah komunikatif agar mudah dimengerti dan diterima oleh para penontonnya.

Tari Mung Dhe memiliki gerakan yang sarat dengan nilai perjuangan. Gerakan yang ditampilkan meliputi latihan baris-berbaris dan adegan perang. Pemimpin prajurit akan menggunakan topeng untuk menutupi wajahnya dan dalam tarian akan disertai dengan gerakan-gerakan lucu dan menghibur.

Tari mung dhe memiliki 8 ragam gerak. Jadi, jika dalam sebuah pentas tari mung dhe terasa cukup lama para pemain dalam tari mung dhe melakukan pengulangan dari 8 ragam gerak tersebut. Dikutip dari jawatimuran.wordpress.com, berikut ini adalah 8 ragam gerak tari mung dhe :

  1. Kirapan : Jalan berbaris diiringi musik Mung Dhe.
  2. Jalan berpedang : jalan dengan pedang diputar-putar didepan dada, tangan kiri dipinggang (malang kerik).
  3. Maju – mundur : gerakan seperti jalan berpedang dengan gerakan maju mundur.
  4. Gontokan : adu kekuatan di tempat saling merapatkan bahu dikanan kiri dengan pedang.
  5. Perangan Lombo Rangkep : pedang ditepiskan pada tanah, saling serang lamba rangkep (lambat – cepat).
  6. Perangan rangkep : saling berhadapan adu kekuatan pedang saling serang maju mundur.
  7. Perang Berhadap : berhadapan adu pedang atas – bawah secara cepat, lalu pedang ditepiskan pada tanah diadu.
  8. Srampangan : penari saling menyerang (melempar pedang) pada kaki lawan secara bergantian dan saling menangkis.
    Tangkisan : gerakan saling menyerang dan menangkis bergantian yang pertama diatas kepala dan yang kedua didepan dada.

Tari Mung Dhe sering dipentaskan dalam acara-acara resmi yang dilaksanakan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Daerah Kabupaten Nganjuk seperti Pemilihan Duta Wisata, Jamasan Pusaka, dan Grebeg Suro.

Leave a Reply